Main image
17th November
2015
written by admin

Hi everyone! It’s been a very long time not posting anything here!
To be honest, I felt like I lost my writing desire lately. It was like I had no time to blog, nothing to share, no idea.
But yeah, today I just want to post something about my gratitude.
I’m trying to count my blessings and name it one by one (I know it will be very long and still I will miss so many things since my blessings are countless!)
But I will write it anyway.

So here we go!

I’m so thankful for:

  1. Having Lord Jesus as my God and Savior. I’m forgiven, saved by His grace, loved, and blessed! No words can describe how thankful I am to have Him. And the good news is, even though I can’t describe it, you also can feel it when you have Him as your God and Savior! Jesus is my everything, my beginning, my forever!
  2. People in my life.
    My parents, they’re not perfect but they’re the best. My dad is blessed (he works diligently & never complains), my mom is a superwoman (she cooks every morning so we always have breakfast on time).  My brothers are kindhearted (read: mau nganter ke sana-sini).
    My grandma, aunts, uncles, cousins, they’re all good people.
    My boyfriend who loves me unconditionally (include his family).
    My bestfriends: Sally (since Junior High School, and she is the only one who still keep contact with me regularly after this 10 years of friendship), Meme, Oliph, Lie Chen (since High School, we always make time to catch up, because we know that our friendship is precious).
    Michelle & Stephanie (my trio piano partner, we share the joy of music together).
    Christine (the one I trusted when it comes to share my thoughts).
    My family in Christ (all of them!)
    Selly, Debby, Ko Erick, Edward. Somehow I feel like they’re truly more than just church friends for me, they are my brothers & sisters. I can share anything without any doubts with them.
    My piano teachers, I can be a teacher now because of their endless patience & support in teaching me in the past.
    Lusi, Alod, Astro, Sylvina, Patty, Clarissa for making my past worthy to be remembered and I believe we will still be bestfriend until forever.
    My pastor who is a role model for me.
    One in Rush team, a unique friendship that I will be grateful forever (each of them are precious).
    My music team at church. I’m glad to be in one team with humble musicians like them.
    And so many more people in my life who takes role in shaping me today. I am so thankful for each of you.
  3. Health of my family, my loved ones, & myself. Thanks Jesus for giving us healthy body.
  4. My job, my lovely students & their parents who trust in me.
  5. My past that was full of miracles, blessings, guidance, success, lessons, and beautiful memories.
  6. Things I have today. I still remember the day I pray to the Lord for what I have today. I now can say that He is always ON TIME in answering our prayer. He knows our needs, and he provides. Even He gives us what we WANT. HE IS GOOD!
  7. My talent, my face, my body, my look, my name, my smile, my hair, my teeth, everything about me. I am thankful for being me.
  8. My future. I know my Lord Jesus preparing something bigger for my future and I just can’t wait!

Oh my heart is full of thankfulness!
GOD IS GOOD ALL THE TIME!

22nd March
2015
written by admin

Hi everyone!
Pernah nggak ketemu sama orang yang ketika ngobrol selalu cerita tentang dirinya, pengalamannya, pemikirannya, prinsipnya, seleranya, pokoknya segala sesuatu tentang dirinya? Well, sebetulnya nggak ada salahnya juga sih. Tapi bakalan bikin bete kalau ujung-ujungnya adalah bragging. Di mana melalui omongannya, dia berusaha terlihat lebih benar dari orang lain, berada lebih tinggi dari orang lain, atau lebih pintar, lebih sukses, lebih hebat, dan lain-lain

Nah, sekarang daripada ngomongin orang lain, lebih baik kita memeriksa diri kita sendiri. Apakah kita adalah salah satu orang yang seperti itu?
Kalau boleh jujur, beberapa kali aku attempted  untuk menjelaskan pengalamanku, diriku, pemikiranku, prinsipku, semuanya tentang “aku” ke orang lain, sekedar untuk memastikan bahwa pandangan orang itu tentang aku sesuai dengan yang kuharapkan. Apalagi kalau aku merasa bahwa orang itu salah memahamiku. Tapi, ada 1 motivasi lagi yang kalau aku gali dalam-dalam, sebenarnya ada dalam diriku, yaitu keinginan untuk dinilai dan dipandang baik, sempurna, tidak bercacat cela, huehehe..
Secara, bisa dibilang aku cukup perfeksionis (ehh.. kumat..-.-“)

Dengan membahas topik ini di sini, aku mengajak kalian untuk kita sama2 intropeksi diri. Akibat dari bragging itu fatal banget. Niat yang awalnya ingin dinilai perfect sama orang lain, justru yang terjadi adalah sebaliknya. Kita justru dipandang sombong dan itu nggak keren banget.
Belum lagi kalau akibat bragging kita justru menghancurkan hubungan pertemanan kita (siapa sih yang nggak males dan bosen sama orang yang sukanya cerita tentang dirinya sendiri, prinsipnya, dan nggak bisa memahami pemikiran orang lain? Ilfil banget kan…)
Terus, bisa juga, bragging kita merugikan orang lain, ketika orang yang kita buali itu terpesona sama cerita kita dan akhirnya merasa hidupnya nggak sebagus kita, dan dia justru bukannya terinspirasi tapi malah putus asa (di dunia ini orang kan beda-beda, pasti ada orang jenis seperti ini)
Selain itu, kita pastinya jadi nggak punya sahabat yang tulus kalau kita doyan bragging, karena persahabatan lahir dari pengenalan yang dalam satu dengan yang lain. Mereka tahu kejelekan kita, kelemahan kita, ketakutan kita, ketidakmampuan kita, dan mereka menerima kita apa adanya. We’re accepted unconditionally. What’s more satisfying than that? Sedangkan kalau kita sering bragging dan berhasil (maksudnya orang lain melihat kita sesempurna bualan kita), maka ketika suatu hari mereka lihat kekurangan kita, yang ada mereka jadi kecewa sama kita dan…. ilfil.
Kalau mau dipanjangin lagi daftar kerugiannya, kebiasaan bragging membuat kita jadi seperti membohongi diri sendiri dan akhirnya membuat kita nggak nyaman karena kita selalu berusaha tampak sempurna sesesempurna bualan kita. (Capek, bro!)

Terus gimana dong kalau kita memang benar-benar mau sharing pengalaman kita, atau prinsip & pemikiran kita tanpa bragging?
Kalau pengalaman pribadiku, di hati ini seperti ada alarmnya. Waktu aku udah bicara panjang lebar menjurus mau bragging, hatiku jadi nggak tenang. Hatiku seolah-olah bilang, “kata-kata yang itu nggak usah dikeluarkan lah, bagian yang itu nggak usah diceritakan lah, diam-diam aja lah…”
Iya betul, caranya adalah jangan bicara terlalu banyak. Too much talk leads to sin (Proverb 10:19 NLT ). Katakan apa yang penting dan bermanfaat buat orang lain, tidak perlu menceritakan pujian orang lain terhadap diri kita. Cukup kita -orang yang memuji kita, Tuhan, dan keluarga mungkin, dan pasangan hidup kita tentunya- yang tahu. Lebih banyak bertanya tentang pengalaman orang lain daripada menceritakan diri kita sendiri.

Aku banyak belajar dari persahabatanku dengan sahabat-sahabatku saat ini (juga sama pacarku). Kita nggak pernah dan nggak perlu tampak sempurna di mata satu dengan yang lain. Kita nggak perlu tampak lebih cantik atau lebih pintar atau lebih sukses daripada yang lain. Kita nggak perlu tampak lebih “tinggi”. Kita nggak perlu juga tampak lebih kaya. Kita cuma perlu jadi apa adanya, bicara apa adanya, berlaku apa adanya, dan kita tetep bisa saling menerima segala kekurangan satu dengan yang lain dengan kasih yang tulus. Kita bisa mengutarakan apapun tanpa rasa takut dinilai jelek atau dihakimi. Kita bisa bersikap nggak anggun (sekali-sekali lah ya..) tanpa takut dipermalukan. Kita bisa memahami satu sama lain dengan segala keaslian sifat kita.

What a wonderful feeling to be loved unconditionally!

Akhir kata, “Let another praise you, and not your own mouth; someone else, and not your own lips”-Proverb 27:2 NIV

Be double blessed everyone!

20th March
2015
written by admin

Hi all!
Ngomongin tentang dreams sebetulnya banyak banget yang bisa dibahas. Nah, q mau share pengalaman dan pemikiran pribadiku ya..
Kalo bisa dibilang,dari sejak kecil q sudah bercita-cita buat jadi guru piano.
Kalau ada yang tanya kenapa, alasannya sebenarnya simple, yaitu sejak kecil itulah ide yang ditanamkan sama mama papaku. Jadi, beneran, dari kecil q nggak pernah punya cita-cita lain selain jadi guru piano. Kayaknya nggak pernah terlintas cita-cita jadi dokter, pramugari, apalagi presiden seperti anak-anak pada umumnya.

Apakah waktu itu q benar-benar cinta mati sama piano dan benar-benar pingin jadi guru piano? Kalau q ingat-ingat, sebenarnya nggak juga sih. Haha!
Malah dalam perjalananku belajar piano, beberapa kebosanan dan keputusasaan menghampiri. Q sempat pingin berhenti main piano dan mencari passion lain yang sekiranya tidak butuh disiplin, latihan, dan kerja keras.
Syukurlah, ortuku tidak pernah merestui keinginanku untuk berhenti main piano. Pada akhirnya q juga menyadari bahwa nggak ada satu pun pekerjaan di dunia yang tidak butuh disiplin, latihan, dan kerja keras kalau kita mau berhasil. Akhirnya q meneruskan belajar piano dan seiring berjalannya waktu, rasa cinta sama piano benar-benar melekat dalam diriku. Malahan keinginan untuk terus belajar itu nggak pernah berhenti. .

Sekarang setelah cita-cita itu terwujud, tentunya perjalananku belum selesai dan masih sangat panjang. Q nggak mau cuma sekedar jadi guru piano yang ngasal ngajar aja atau jadi guru piano biasa-biasa. That’s why I keep on learning & keep pracitising & keep thinking on how to improve my teaching skill. Pastinya, musik masih terlalu luas untuk dipelajari bahkan untuk seumur hidup.

Tapi, q masih punya passion & dream lain juga yang mau q gali dan kerjakan di hidupku. Q merasa setiap talenta harus dikembangkan, sekalipun nggak harus untuk jadi pekerjaan yang menghasilkan uang.
So, what’s next? 
Let’s see!! 

10th February
2015
written by admin

Hi friends! Hari ini q mau sharing tentang sebuah pesan yang q dapatkan untuk menjalani tahun ini.
Sebuah misi yang kuat sekali ditaruh di dalam hatiku, dan diteguhkan beberapa kali lewat kotbah, beberapa kejadian,  dan renungan harian online langgananku.

Jadi, memasuki tahun 2015 ini sesungguhnya q nggak terlalu bersemangat.
Ya, sebetulnya waktu mendekati akhir bulan Desember itu q semangat banget untuk menyongsong tahun 2015. Tapi begitu terjadi tragedi Air Asia QZ8501, semangatku tiba-tiba lenyap.
Bahkan, sempat melintas di pikiranku untuk menghapus resolusi & rencana-rencana 2015 yang sudah q tulis di memo HPku. Bukan tanpa alasan, waktu itu sempat terbersit di pikiranku seperti ini, “Sebetulnya sia-sia juga berdoa atau berencana macam-macam, toh kalo sudah kehendak Tuhan ya terjadilah. Jadi, ngapain terlalu memikirkan sebuah rencana, lebih baik pasrah aja.”
Tapi tentu saja, pikiran itu tidak mendapatkan tempat tinggal di pikiranku.
Q tahu itu pikiran yang salah. Berdoa bukanlah memaksa Tuhan untuk menuruti kehendak kita, tapi justru ketika berdoa, kita mencari kehendak Tuhan. Ketika berdoa, kita berserah. Ketika berdoa, kita mempercayakan hidup kita pada Pribadi yang tepat.

Berjalan beberapa hari di tahun 2015, q kembali membangun semangatku.
Q mulai tulis resolusi & rencana-rencana 2015 ke dalam buku yang q sebut sebagai “Book of Everything“. Ya, karena q suka menuliskan apa yang q pikirkan, jadi q punya sebuah buku yang isinya campur aduk: lesson plan buat murid-murid, jadwal mengajar, daftar nama-nama tempat liburan yang mau q kunjungi, daftar nama orang-orang yang bakal q undang kalau q married suatu hari nanti (my Mom says I’m weird because of this, haha!), resep masakan yang q pelajari dari Mama (yes, akhirnya q memutuskan tahun ini harus mulai belajar masak), dan masih akan banyak lagi yang mau q tulis di buku ini.

Selesai menulis semua resolusi & rencana-rencana di “Book of Everything“, hatiku masih mengganjal sih. Soalnya, q menyadari,  beberapa resolusi & rencanaku untuk tahun ini masih sama dengan tahun lalu.
Akhirnya kuputuskan untuk membuat jadwal kehidupan/daily schedule dari bangun tidur sampai tidur, dari Senin sampai Minggu.
(Okay, sebetulnya tahun lalu q pernah membuat seperti ini, tapi terlalu detil sampai q capek sendiri menjalaninya & ditambah kurang disiplin jadi gagal deh)
Nah, kali ini, di dalam jadwal kehidupanku itu juga q masukkan beberapa resolusiku untuk dilakukan di waktu tertentu (Misalnya, tahun ini aku mau mulai belajar masak, jadi setiap Selasa q sudah janjian sama Mama buat belajar masak dimulai dari jam 11 siang). Dengan begitu, rencana tidak hanya jadi rencana dan tahun ini q bisa melakukan apa yang sudah q rencanakan.
Nah, jadi teringat sebuah ayat yang berkata: “Jika Tuhan berkehendak, maka aku akan berbuat ini dan itu”. So, I thing it’s very important for us to have plan & goal in this life. For if it is the Lord’s will, it’s gonna be happen.

Nggak berhenti di situ, hatiku masih mencari-cari. Seperti ada sesuatu yang lain yang harus q lakukan di tahun ini. Apalagi, sejak tragedi Air Asia itu, q merasa sangat penting untuk menjaga hubungan, & mengasihi orang-orang tanpa menyisakan ruang untuk sebuah penyesalan. But, I don’t really know how to do it..
Hingga suatu hari, waktu lagi di dalam perjalanan di taksi, q iseng membuka sebuah artikel di internet. Q lupa judulnya dengan detil, tapi intinya tentang  jika kita mau sukses kita harus bisa membagi penghasilan kita. Sebetulnya q udah ngeliat judul artikel ini berkali-kali tapi tidak pernah tertarik untuk membacanya, sampai hari itu di dalam taksi q baca. Dan isinya sangat memberkatiku. (Aku lupa q baca artikelnya sampai habis atau nggak-, soalnya 1 poin itu sangat amat menginspirasiku, jadi q lupa dengan sisanya yang dibicarakan di sana).
Poin itu adalah sebuah kalimat yang bunyinya kira-kira seperti ini: Kalau kita nggak punya banyak uang, maka gunakan uang kita bukan untuk beli barang pribadi kita, tapi untuk membeli kado bagi orang lain, terutama orang-orang terdekat kita.

Kalimat itu terus terngiang-ngiang & q pikirkan terus. Sampai akhirnya q putuskan kalau tahun ini q akan gunakan sebagian uang untuk memberkati orang-orang yang q sayangi: keluargaku, sahabat-sahabatku. Tentu q belum bisa memberi sesuatu yang begitu berharga, tapi q pingin memberi sesuatu mungkin di hari spesial mereka,  hanya supaya mereka tahu bahwa mereka sangat berharga. Berharga buatku.

Nah, lalu hal-hal inilah yang meneguhkan misi itu.
Q teringat kotbahnya Ko Philip di Natal AOG 2014. Q lupa pastinya tapi yang jelas waktu itu membahas tentang hukum yang terutama, yaitu mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. Ini berarti bahwa keduanya sama pentingnya. Mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. Mengasihi sesama sama seperti kita mengaku mengasihi Tuhan.
Q juga teringat kotbah ko Philip yang q dengarkan dari You Tube yang judulnya kalau nggak salah “Karunia Membedakan Roh”. Di sana ada 1 pesan yang q dapat, bahwa hubungan itu penting. Tuhan menghargai orang yang menghargai hubungan.
Selain itu, di akhir tahun 2014 sendiri aku mengalami sendiri di hidupku bagaimana Tuhan memulihkan hubunganku dengan seorang sahabat lamaku yang dingin selama kurang lebih 1,5 tahun.
Di beberapa hari ini, renungan harian yang q baca juga terus menerus membahas tentang menggunakan uang untuk memberi, mengasihi sesama, menghargai hubungan.
Selain itu, di materi Connect Group Sabtu lalu, juga membahas tentang mengasihi sesama,
Dan masih banyak lagi hal-hal yang semakin meneguhkanku.
Visi gereja di tahun 2015 ini juga tentang kerendahan hati. Q seperti diajar untuk menghargai orang-orang di sekitarku. Keluargaku, pacarku, sahabatku. Orang-orang yang berharga bagiku. Q sungguh diberkati punya mereka di hidupku. Q butuh mereka. Jujur, q agak gengsi untuk menyatakan ke orang lain, yang terdekat sekalipun, bahwa q bangga kenal mereka & punya mereka di hidupku. Tapi kali ini, q jujur 😀

Yah, semoga tulisan ini menginspirasi dan sekaligus meneguhkan kalian yang mungkin juga mendapatkan pesan yang sama denganku.
Love GOD, love people 🙂

29th January
2015
written by admin

Holla everyone!
Hari Minggu kemarin aku habis hang out sama sahabat-sahabatku semasa SMA. Bukan pertama kalinya sih, tapi kemarinlah yang paling berkesan. Setelah masing-masing punya pasangan dan punya urusan masing-masing, I realized that our friendship doesn’t change at all. We still pray together before eat, we still laugh out loud at the same jokes,  taking weird photos together, and the most important is we still love each other just like the old times!

How thankful I am to have them!

Eventhough we live kilometers away from each other (Surabaya, Probolinggo, Tulungagung), but we always have time to keep in touch. I mean, we always MAKE TIME for each other. I think that’s the key for a long lasting relationship.

So, here I want to brag them! My precious friends, the best buddies I met in high school. From them I could see myself as a BLESSED one!
I always pray that GOD will continually bless them & bless our friendship & let 2 of my high-quality-single-friends to find their soulmate SOON! HAHA!

bff1

(From left to right: Steven, ko Steven,me, Oliph, Meme, & Bonny)

bff3

 (From left to right: Me, Oliph, & Meme)

Previous
Instagram